Kue Apem

0
55

Air mataku belum kering sempurna saat ibu memaksa masuk ke kamar. Sisa ingus dan isakku masih tertahan,  dengan sembunyi-sembunyi kuusapkan pada ujung sarung bantal. Tangis ini tangis pertama di ramadhan tahun ini, tangis ke sekian ratus bahkan ribu kali, akibat luka yang ditoreh oleh laki-laki tua itu. Meskipun, luka kali ini bukan luka yang sama seperti luka di tangis-tangis sebelumnya.

Ibu membelai rambutku dengan penuh kasih sayang, mengusap punggungku dengan lembut dan membiarkan aku bergelung nyaman di pangkuannya yang selalu hangat. Sama hangatnya ketika aku menangis saat usiaku dua belas.

Kala itu, ibu merayuku untuk mengalah pada laki-laki tua yang sejak aku lahir harus kupanggil bapak. Suka atau tidak, ibu selalu memaksaku untuk memanggilnya bapak. Meskipun, tubuhku kerap berhiaskan bilur membiru ciptaan sabuk laki-laki tua itu.

Aku tahu aku salah, tetapi kesalahanku bukanlah kesalahan besar dan tidak seperti Reni yang juga melakukan hal yang salah, dia hanya diomelin oleh ibunya. Tidak seperti aku yang harus menahan bilur ngilu beberapa waktu.

Sejak kecil, aku sudah memiliki rasa tidak suka pada laki-laki tua itu. Karena dia terasa demikian jauh meskipun kami satu tempat berteduh. Terkadang, memang sengaja menjauh, sehingga cintaku kepadanya ikut merapuh. Bahkan, saat aku hendak meminta sesuatu, tidak jarang sentakannya yang kasar dan pandangannya yang menghujam tajam,  menjadi jawaban atas permintaaku yang tidak diluluskan.

Lama-lama aku tidak pernah meminta apapun kepadanya lagi. Jika aku meminta kepada ibu dan ibu memeritahkanku untuk meminta pada laki-laki tua itu, maka aku memilih diam dan mengusahakannya sendiri. Hingga, aku berhasil mengusahakan diriku duduk di posisi tinggi pada perusahaan asing di pusat kota.

Menikmati hasil jerih payah memeras keringat demi gaji di akhir bulan, bukanlah hal sulit dibanding masa ketika aku harus meminta ada laki-laki tua itu. Termasuk, membelanjakan ibu beberapa hal yang menurutku itu layak untuk kuberikan. Nyatanya tidak semudah itu, saat ibu menerima pemberianku dengan penekanan bahwa dirinya tidak menginginkannya. Lebih  baik aku menabungnya saja atau jika membelikan sesuatu haruslah berguna untuknya dan laki-laki tua itu.

Entahlah, ada rasa tidak suka jika aku harus membagi hasil keringatku pada laki-lai tua bermuka keras itu. Jika dia menganggap aku ada, kenapa hanya selalu ibu yang mau berbicara padaku di telepon saat akhir bulan aku tidak pulang ke rumah lantaran pekerjaan yang semakin banyak.

Hingga, semua berubah bersamaan dengan tangis pertamaku di bulan ramadhan tahun ini.

Sore itu, ibu menceritakan banyak hal tentang laki-laki tua itu, sembari membersihkan tumpukan daun pisang dan cetakan kue apem.

Ibu berkisah tentang cinta dari suaminya, sehingga memaksa dirinya untuk mengeraskan hati agar tidak luluh dengan rengekan manja anak gadisnya yang nakal. Mengeraskan empati untuk menghukum, karena memang perlu didisiplinkan.

Kata ibu, laki-laki itu memilih untuk bermuka keras karena karakterku yang keras dan suka membantah. Sehingga butuh figur kuat yang bisa mencegah dan mengendalikan semua kenakalan yang dapat aku timbulkan. Apalagi, aku anak perempuan yang harus tangguh dan mandiri karena tidak selamanya aku ada di ketiak ibu.

Ibu juga bercerita tentang perjuangan laki-laki itu untuk merawat sawah dan ladang, hingga kulitnya legam menjadi pecah-pecah karena terbakar matahari. Menikmati malam sepi demi menjaga saluran irigasi, agar bisa membayar uang sekolah setelah panen. Meratap tanpa suara, saat melihat anak gadisnya menangis pilu. Dibiarkan hatinya koyak, karena pandangan benci dan penuh dendam yang malah dia dapatkan.

Laki-laki itu selalu menyuruh ibu untuk telepon setiap hari dan kemudian diam mendengarkan suaraku dengan binar rindu di samping ibu. Orang pertama yang sibuk mengingatkan ibu untuk memasa aneka lauk kesukaanku saat tahu aku akan pulang serta diam-diam pergi ke pasar saat subuh , untuk membelikan aneka jajanan kesukaanku agar bisa kubawa ke kosan meski dengan cemberut kuterima. Karena membawa berkardus-kardus makanan itu, sangat merepotkan di perjalanan.

Cinta yang sederhana hingga aku tidak mampu memahaminya tanpa mengurai benci dan dendam yang meraja di hati. Laki-laki tua yang memilih untuk menyembunyikan perih dan lara dalam peti terkunci, demi menjaga masa depanku yang tidak murah dan sulit.

Ribuan bahkan jutaan cinta lain yang ibu ceritakan membuat mataku terbuka akan cinta seorang ayah kepada anak gadisnya. Bahkan, laki-laki tua yang  dulu terpaksa kupanggil bapak itu, tidak membiarkan aku malu dengan mengucapkan kata maaf yang seharusnya kuucapkan sejak dulu.

Penyesalan demi penyesalan datang seolah ingin membunuhku karena dengan keras hati aku tetap tidak mau pulang ke rumah saat dikabari ibu laki-laki itu sakit dan ingin bertemu. Bahkan aku lebih mementingkan pekerjaan yang masih bisa kukerjakan esoknya ketimbang harus mengejar waktu saat dia masuk ICU.

Kini, penyesalan itu semakin terasa menyesakkan sejak hari kematian pertamanya, aku menyadari bahwa dia adalah ayah terbaik yang ada di dunia. Sayangnya, derai air mataku tidak ada artinya lagi meski ribuan kue apem yang menjadi kue kegemarannya kumasak dnegan tanganku sendiri sembari merapal doa agar dia hidup kembali agar aku bisa menebus semua sikap burukku padanya. Tapi apa daya, karena kue apem yang ada di depanku ini akan menjadi pengiring tujuh hari kepergiannya.

TAMAT

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here