Kotes Mata Paling Indah

0
95

Di kotaku, setiap tahun akan diadakan kontes Mata Paling Indah. Pesertanya bebas, bisa laki-laki atau perempuan. Mulai dari remaja, dewasa hingga yang lanjut usia. Bayangkan! Seperti apa kemeriahannya. Sehingga, jauh-jauh hari, setiap orang akan mempersiapkan dirinya untuk menjadi pemenang dalam kontes. Namun, ada yang aneh dalam syarat mutlak untuk dapat mengikuti kontes ini.

Satu-satunya syarat yang harus dipenuhi dalam kontes ini adalah, peserta tidak boleh buta. Jadi, meskipun ada orang buta memiliki sepasang mata dengan bentuk maha indah dan bulu mata yang lentik sempurna, tidak akan dapat mengikuti kontes ini. Jadi, orang cacat bermata satu pun boleh ikut kontes ini.

Aku tidak tahu dari mana peraturan aneh ini berasal. Namun, yang kudengar dari perbincangan orang-orang, syarat ini ada karena orang buta hanya akan merusak tatanan yang ada di kota ini. Kota yang tetatur, rapi, penuh geliat kehidupan dan menawarkan segala bentuk gemerlap keindahan.

Jika memenangi kontes Mata Paling Indah, pemenangnya bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan hanya dengan sekali kerling atau sedikit melotot. Jadi, para juri handal akan benar-benar memastikan, pemenangnya memang layak dan pantas untuk mendapatkan segala kemudahan itu. Bukankah itu sangat menggiurkan?.

Tahun ini, aku pun sudah menyiapkan diri dalam berbagai macam perawatan sejak dua tahun lalu. Tidak peduli jika tabunganku terkuras habis demi memenangi kompetisi bergengsi ini. Bahkan, beberapa sawah warisan keluargaku pun ikut tergadai demi membiayai jasa perawatan mataku.  Tidak tanggung-tanggung, aku memilih yang paling terkenal dan banyak alumninya yang pernah masuk tiga besar. Bahkan, pemenang tahun lalu pun dari sini. Seorang laki-laki bermata satu. Sebab, sebelah matanya rusak setelah di siram air keras oleh pesaing yang memerediksi dia akan menang.

“Baiklah, ini rangkain perawatan yang terakhir. Jika kau lulus ujian ini, aku yakin kau akan memenangi kontes tahun ini,” kata terapis yang merawatku sembari memberiku setumpuk kertas dan berbagai macam proposal.

Aku hanya mengernyit bingung. Sebab, begitu banyak tulisan yang tidak bisa kulihat secara utuh. Tidak peduli berapa kali pun aku mengucek mata, melotot hingga pedih, dan meneteskan berbagai macam serum perawatan kesehatan mata, hasilnya tetap. Aku tidak bisa melihat secara utuh. Anehnya, yang tidak bisa kulihat hanya deretan angka. Selain itu, aku bisa melihat dengan jelas.

Demikian juga saat terapis membawaku keluar dari ruangan tempat perawatan, dia menyuruhku untuk melihat sekeliling dan menggambarkan apa yang kulihat. Samar, air mukanya keruh saat aku menceritakan bahwa jalanan lengang dan sesekali parade mobil mewah melewatinya. Demikian juga deretan gedung bertingkat yang mentereng, sejauh mataku memandang.

Dia bilang, aku terindikasi buta. Oh, yang benar saja!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here