Kebaya Merah

0
24

Bagian 1

Pernahkah kau berada di titik nadir kehidupan tetapi titik itu sama sekali tidak pernah ada dalam bayanganmu? Pernahkah kau merasa lelah dengan kehidupan yang itu-itu saja sedangkan yang kau lihat sangatlah luar biasa?

Aku pernah.

Sesak rasanya ketika berjuang melangkah di jalan itu. Mencoba terus hidup dengan segala keterbatasan yang ada dan menerimanya sebagai takdir.

Aku masih ingat hari itu, hari dimana kebaya merah berenda putih itu, mengubah hidupku tanpa ampun. Hari dimana langit cerah diubah menjadi gelap oleh awan hitam yang membawa hujan dan gemuruh guntur. Bahkan, aku masih ingat aroma tanah basah dan kopi hitam milik bapak yang kala itu menjadi saksi perjuanganku untuk terus hidup hingga sampai di titik ini.

Sore itu, sembari makan, kupandangi kebaya merah berenda putih yang selesai emak seterika dengan percikan air rendaman daun pandan dan bunga melati. Aromanya yang harum bercampur dengan sempurna dalam khayalanku akan indahnya hari ketika kupakai.

“Besok, ke pasarlah sendiri. Emak sama Bapak nak panen getah karet. Lusa sudah waktunya timbangan. Bawa semua ayam di kandang, temui Cik Lina,” pesan emak sambil memasukkan pelepah kepala kering ke dalam tungku yang mulai kehilangan api besarnya.

Dengan mengangguk pelan, aku meneruskan makan nasi tiwul yang masih mengepulkan asap panas. Aroma pedas dan tajam, menguar dari kuah santan yang emak racik bersama ratusan cabe rawit dan tempe yang mulai busuk di kuali bergagang satu, terasa sangat sempurna untuk menjadi tangga lamunan antara aku dan kebaya merah berenda putih yang tergantung di dekat pintu.

Pagi-pagi sekali, saat surau ujung kampung telah bersuara. Aku mengikat kaki-kaki beberapa ayam dewasa untuk kubawa ke pasar. Setelahnya, aku harus berjuang dalam licinnya jalan desa yang belum beraspal, sebab semalam hujan turun dan menyisakan genangan di atas tanah yang lengket. Pelan-pelan kulangkahkan kaki, menghindari kotoran kerbau sebesar tampah yang bertebaran di sepanjang jalan dan juga genangan air berwarna coklat tua.

Di persimpangan, kujumpai Ombay Luh yang memanggul keruntung berisi ubi kayu dan juga kelapa kering yang hendak dijualnya di pasar. Dalam keremangan pagi, kami pun berpegangan tangan dan berjuang mencapai ujung desa agar bisa naik satu-satunya kendaraan yang menuju pasar di kota.

Saat harga karet rendah seperti sekarang, masyarakat desaku mengandalkan kebutuhan hidup dengan menjual aneka hasil ladang dan juga ternak yang tidak seberapa jumlahnya. Namun, sepanjang ingatanku ketika merapikan catatan hasil timbangan karet milik bapak, tidak pernah kujumpai karet harganya tinggi sehingga kami bisa tenang makan nasi putih.

Kendaraan bak terbuka yang kutumpangi, melaju dengan pelan. Melewati genangan air yang tidak dangkal, tanah merah dengan tekstur lengket dan licin. Berkali-kali kepalaku terantuk besi pegangan, bahu bertabrakan dengan penumpang lain yang berjejalan, sedangkan ayam-ayam yang ada di bawah bangku, kotorannya pun mulai tercium kuat.

Ombay Luh menepuk bahuku pelan, mengalihkan pandanganku yang muram ke arah kawanan siamang yang bergelantungan di sekitar dahan-dahan pohon karet. Dia tahu, aku akan mabuk kendaraan jika terus menerus melihat ke arah ayam-ayam yang mulai berkotek marah.

“Makanlah,” seru Ombay Luh sembari mengangsurkan secuil gula aren berwarna kecoklatan, yang kutahu itu pasti dimasak dengan sungguh-sungguh di tungku tanah miliknya selepas menderes.

Dengan senyum terkulum, kuterima cuilan gula aren itu dan menyesapnya dalam diam. Lamunanku kembali bertaut pada kebaya merah dengan pinggiran renda putih berbentuk bunga-bunga di rumah. Cantik. Aku tersenyum samar saat membayangkan kebaya itu kupakai dengan kain songket berhiaskan benang-benang berwarna emas kemerahan.

Saat itulah, bunyi rem dan teriakan laki-laki yang duduk di pinggiran bak kendaraan, menyadarkanku dari lamunan panjang. Para wanita tampak kalut dan mengusap dada berkali-kali, karena lega kejadian yang beberapa detik kulewatkan tidaklah membawa malapetaka. Namun, mereka tidak tahu, dari sanalah petaka, anugerah dan juga takdir baruku bersama kebaya merah bermula.

BERSAMBUNG

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here