Hari Kematian

0
37

Aku diam, melihat kopi yang meleleh dari ujung tatakan yang sedikit rompal di ujungnya. Seperti biasa, aku pun membeku di tengah, memperhatikan lalu-lalang orang yang sibuk dengan segala arang dalam angan. Aku suka di sini, meskipun semua orang abai akan keberadaanku.

Di sini, aku menemukan dunia kecil yang terbungkus dinding kusam dengan cat yang tidak jelas warnanya. Rangka kayu yang menopang daun-daun jendela, terlihat sama merananya dengan plitur yang sudah mengelupas di seluruh permukaan kayu tua. Belum lagi kalender yang ada di dekat meja kasir, bertumpuk sedemikian rupa tanpa seorang pun berniat melepas yang lama. Seolah, tidak rela jika hari kemarin pergi begitu saja.

Ada beberapa pelanggan yang kuhafal, seperti apa perawakannya, jenis kopi pesanannya, jenis makanan pendamping pilihannya dan  jika berutung, aku tahu siapa namanya. Seperti, laki-laki tua yang duduk di ujung sebelah kanan. Selalu datang pagi-pagi saat café masih belum rapi, memesan secangkir kopi hitam dengan sedikit gula dan kacang goreng sebagai pendampingnya. Membaca koran dan diam di sana hingga hari senja tiba. Seolah, dia menunggu hari senja yang sama seperti hari senja yang membawa kematian istrinya empat puluh hari lalu.

Demikian juga, dengan wanita muda yang biasanya duduk di tengah ruangan. Datang tengah hari ketika pengunjung sedang penuh-penuhnya, dan akan menggunakan segala cara untuk bisa duduk tepat di tengah. Semakin ramai, semakin baik untuk mendapat perhatian dengan gincu merona merah di bibirnya yang mengapit sebatang rokok mild. Memesan espresso dengan taburan coklat bubuk berbentuk hati dan dua batang wafer coklat. Meminumnya pelan-pelan, hingga dia bosan mengutak-atik kempat gawainya. Namun, hari ini aku tidak menjumpai dia, meskipun café  penuh sesak. Kata hari yang datang hari ini, kematian baru saja menjemputnya, sehingga dia tidak akan bisa datang ke sini.

Kelahiran, kematian, kedatangan, kepergian merupakan cerita rutin yang aku dengar. Beragam kisah diceritakan oleh hari. Demikian juga cerita tentang, semakin hari semakin sedikit orang yang mempersiapkan diri untuk menyambut hari dengan hari kematian. Mereka tidak pernah peduli kapan hari yang membawa hari kematian mereka tiba, padahal, bisa saja esok, tubin maupun tulat datangnya.

Berbeda dengan kebanyakan orang, aku yang sudah kenyang segala macam cerita hari, telah mempersiapkan hari kematianku jauh-jauh hari. Rajin bertanya kepada hari yang datang hari ini, apakah dia membawa kematian yang akan menjadi hari kematianku hari ini. Sayangnya, hari tidak pernah menjawab pertanyaanku yang satu ini dan akan mengalihkan diriku dengan mencandai debu yang menempel.

Nyatanya, ketika hari itu datang, aku masih belum siap dan merasa berat untuk berpisah dengan semua kehidupan, kenangan dan segala hal yang selama ini kulalui bersama hari. Siap tidak siap, aku harus pergi menemui hari yang membawa hari kematianku. Tidak peduli, jika kau belum perpamitan kepada semua yang kukenal, meminta maaf untuk semua kesalahan yang kubuat dan beragam rencana perpisahan lain yang telah lama kupersiapkan.

“Hancur, terserak dan ini sakit,” kata hari yang membawa hari kematianku, sambil menunggui satu persatu kehidupanku terbang menuju tempat lain yang tidak pernah hari ceritakan sebelumnya.

Pandanganku nanar, menatap hari kematian yang mengirimkan kematianku melalui tangan seorang pengunjung yang melemparkan cairan kopi pada kekasih yang telah mencampakkannya begitu saja.

***

TAMAT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here