Dua Puluh Buah Melon

0
143

Di kantor, ada karyawan paling jujur. Darmono namanya. Perawakannya kecil, berkulit gelap dan selalu memakai seragam licin bergaris bekas seterikaan. Datang paling pagi dan pulang paling akhir. Herannya, sejak sepuluh tahun lalu, jabatannya masih tetap. Tidak ada kenaikan pangkat, meskipun dia tidak pernah menggunakan cuti tahunan. Pun demikian juga dengan tunjangan, tidak ada lebihnya, walau loyalitasnya bisa dipastikan luar biasa.

Dia itu, senang membantu orang lain meskipun itu bukan tugasnya. Tersenyum ramah meskipun jarang dibalas, menyapa dengan hangat meskipun tidak dianggap. Aku salut terhadap mentalnya yang kuat dan selalu berfikiran baik kepada orang lain. Namun, banyak yang tidak menyukai dirinya.

Aku pernah pulang bersama dia. Ketika sosoknya yang kurus mengkerut di halte depan kantor, menunggu ojek datang. Aku menawarinya pulang bersama, karena kami searah. Meskipun aku harus setengah memerintah, agar dia bersedia pulang bersamaku. Itulah dia, selalu merasa takut merepotkan orang lain.

Kau tahu? Saat lampu lalu lintas berwarna kuning, dilarangnya kuinjak pedal gas. Katanya, kuning tanda harus melambatkan laju kendaraan. Risikonya, aku disumpahi oleh antrian kendaraan di belakangku. Karena, ya, selagi belum merah, siapa yang mau menunggu kuning? Ah, itulah dia. Memang sejujur itu, termasuk pada peraturan jalan raya.

Dia juga tidak malu untuk jujur akan kondisi keuangannya. Sebab, pernah suatu ketika, kupaksa makan bersama di kantin bawah, dia menolak. Alasannya, sedang tidak punya cukuo uang dan mau makan mie instan di dapur umum. Demikian juga ketika membungkus lauk sisa yang ada di piringnya, dia tidak malu untuk meminta lauk sisa di piringku. Katanya, lauk sisa itu bisa dia makan untuk jatah makan malam. Sayang, jika harus dibuang. Hatiku melelah melihat kejujurannya. Bisa saja, orang lain akan malu melakukan hal tersebut.

Kejujurannya sangat lurus. Saking lurusnya, bos dan banyak orang menjadi tidak suka kepadanya.  Setelah sering berinteraksi dengan dia, barulah aku tahu, kenapa banyak yang tidak suka dengan kejujurannya.

“Dar, kalau mau ke kantin, aku titip ya,” kataku siang itu. Sebab, laporanku sudah ditunggu petugas pengiriman dan aku harus merelakan makan siang di ruang kerja.

“Ah, kebetulan. Ini saya mau ke kantin. Mau titip apa?” tanyanya sembari mendekat ke arah mejaku.

“Titip nasi rames satu, bala-balanya dua puluh, melonnya juga dua puluh,” jawabku sambil meneruskan pekerjaan dan membayangkan segarnya potongan buah melon yang berjajar di kulkas kantin.

“Wih, banyak sekali,”komentarnya sambil melongok ke arah monitorku.

“Iya, mau kasih cemilan buat sopir, kasian, harus lama menunggu untuk muat barang,” jawabku sambil menyerahkan sejumlah uang yang sengaja kulebihkan untuk dia.

Beberapa menit kemudian, aku kaget. Karena beberapa office boy masuk ruanganku, sambil membawa dua keranjang besar yang berisi buah melon. Katanya, disuruh Darmono untuk membantunya mengangkat dua puluh buah melon itu ke ruanganku.

“Pak, uangnya kurang banyak saya tadi masih ngutang. Untung saya kenal yang jual buah, jadi boleh ngutang dulu,” ujarnya dengan wajah polos dan sarat kata bangga karena berhasil membawa dua puluh buah melon utuh hasil hutang.

Seketika, laparku hilang dan teman-teman terpingkal-pingkal, melihat aku terkena imbas dari kejujuran Darmono yang sangat lurus.

***

Dee Purnama, 31 Mei 2019

Penghujung Ramadan.

 

PROFIL PENULIS

Dee Purnama, wanita yang berusaha terus menulis untuk tetap waras ini, telah menjadi kontributor antalogi MERINDU RENJANA, dan DENTING HATI BIDADARI di Infinity Lovink. Selain itu, ada antalogi NOSTALGIA yang diterbitkan oleh Jejak Publisher.

Wanita yang akrab di panggil Dee ini, dapat dihubungi melalui e-mail devi.pse@gmail.com atau akun G+, yukemobi@gmail.com dan juga Facebook dalam  akun Dee Purnama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here