Cintamu Anjing

0
66

Kau tersenyum dan aku pun mati. Bukan mati karena nyawaku tercabut dari raga oleh tangan-tangan malaikat kematian, tetapi mati karena seluruh tubuhku membeku tersihir oleh kemilau senyummu.

Itu kesan saat jumpa pertama denganmu. Aku benar-benar tidak punya kata selain ‘terpesona’ untuk menggambarkan betapa aku sangat takjub dengan kehadiranmu.

Kau mengabaikan baju dan celana yang kotor, karena menyibak tumpukan sampah tempat diriku berbaring selama berhari-hari sembari menikmati belatung yang berpesta dari bekas luka di tubuhku.

Kau membopong tubuhku yang ringkih dengan penuh kasih. Mengabaikan tatapan sinis dari orang-orang yang kebetulan melihat. Bahkan, kau tetap berlalu dengan tenang, ketika ada yang melarang dirimu untuk menyentuh tubuhku yang bau.

“Dia telah melukai seorang anak,” kata seseorang yang kebetulan berpapasan dengan dirimu saat menggendong diriku.

“Biarkan dia mati, membusuk bersama sampah. Agar dia jera atas apa yang telah dia lakukan,” teriak seseorang yang lain. Orang yang merasa sebagai  hakim paling benar atas petaka yang menimpa diriku.

“Kenapa kau menolongnya? Dia sundal murahan yang menggoda lelakiku,” geram sebuah suara lain yang tidak kulihat siapa pemiliknya. Karena mataku terlalu lelah untuk terus menatap kilau cinta dari wajahmu.

Jika saja, aku tidak takut larangan Tuhanku untuk menyembah mahluk lain. Mungkin, aku akan memujamu setiap waktu dan mentasbihkan namamu dalam setiap deru napasku. Lalu, mengajak semua orang untuk melakukan hal yang sama, yaitu menyembahmu.

Sayangnya, itu tidak mungkin. Sebab aku tidak berani mengingkari Tuhanku, yang menciptakan seluruh semesta. Selain itu, aku masih menghormati kepercayaan masing-masing pribadi untuk menyembah Tuhannya sesuai dengan tata cara masing-masing.

Jadi, kuputuskan untuk memujamu dengan cara yang berbeda. Bukan untuk membuat dirimu seperti Tuhan, melainkan untuk membuat dirimu sebagai ciptaan Tuhan yang mengagumkan.

Kau anggap aku gila? Ah, kau terlalu berlebihan menangapi kekagumanku. Memang, bisa dikatakan aku gila. Tetapi, gilaku ini bukan gila nomor satu. Bukan juga gila seperti anjing yang kena rabies, karena gilaku ini ada di nomor tiga puluh delapan. Yaitu, gila karena sangat mengagumimu.

Sungguh, aku sangat menyukaimu.

Kau dengan segala kelembutanmu, merawat diriku yang tengah sekarat tanpa merasa jijik melihat luka menganga di berbagai tempat di tubuhku. Kau juga dengan santai, menangkapi belatung nakal yang membuat sarang di dalam lukaku.

Bahkan, kau memintaku untuk bersabar dan tidak mengutuk orang-orang yang melukaiku. Katamu, tidak perlu ikut berperilaku buruk. Karena keburukan akan melahirkan keburukan yang lain dalam lingkaran setan. Jadi, aku hanya butuh bersabar dan bersikap sebaik mungkin untuk memutus lingkaran itu. Agar tidak ada lagi, keburukan yang menyerang diriku nanti.

Kau juga tahu, bahwa aku melukai seorang anak. Sebab, aku mengalami trauma berat. Kemarahan yang menumpuk dalam hatiku terjadi karena ada manusia durjana yang menjadikan tubuhku sebagai pemuas nafsu dengan cara kejam. Manusia-manusia laknat yang menyiksaku hingga sekarat hanya untuk kesenangan sesaat.

Menurutmu, meskipun aku salah dan jiwaku tersesat, aku berhak mendapatkan hadiah pengampunan atas apa yang pernah kulakukan sebelumnya. Tidak penting apa yang telah terjadi, karena apa yang akan terjadilah yang harus diperhatikan. Sehingga, tidak mengulang kesalahan yang sama.

Ternyata, selain baik, kau juga sangat bijak. Aku pun suka.

Kau tidak meributkan warna, jenis maupun latar belakangku. Bagimu, aku adalah ciptaan Tuhan dan berkedudukan sama. Meskipun, banyak orang berlaku sebaliknya. Orang-orang yang telah mencemooh, menyakiti dan menganggap diriku gumpalan daging menjijikkan. Sehingga, tidak layak untuk mendapat perlakuan yang sama.

Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Kau sangat berbeda dengan orang yang telah menyiksaku demi kepuasaan sesat. Karena kau tampak biasa saja, saat kubuka paha dengan terang-terangan. Memamerkan celah yang selama ini terlipat rapi diantara dua kaki. Bagimu, itu hanya bentukan dari struktur tulang yang terbungkus daging dan kulit. Tidak lebih. Tidak seperti pejantan durjana, yang akan langsung memperlihatkan seringai nafsu lapar begitu melihatnya.

Namun, perlakuanmu pagi ini membuat separuh dari rasa kagumku hilang tanpa bekas. Kau tahu kenapa?

Hatiku sakit, saat menerima kenyataan dirimu tidak mau kupeluk. Bahkan terlihat berusaha menjauh saat aku hendak mencium kakimu. Padahal, aku hanya ingin menyampaikan rasa terimakasih. Terlebih, ciuman yang akan kuberikan bukan ciuman ala Perancis yang memabukkan. Bukan juga ciuman penuh rasa, seperti pasangan yang mabuk asmara. Karena yang ingin kiberikan hanya ciuman ringan dengan arti ketulusan.

Aku patah hati.

Sialnya, kebaikanmu telah mengurungku untuk terus terperangkap dalam gelombang feromon yang kau pancarkan. Membuat seluruh tubuhku menolak untuk menjauhimu dan kembali jatuh cinta kepadamu. Sekali lagi.

Hai, kau. Laki-laki gagah dengan dada bidang yang menenangkan. Tahukah kau? Bahwa setiap hal yang ada padamu, tidak bisa membuat diriku membencimu. Bahkan, saat kau berkeringat dan kelelahan, tetap saja aliran peluhmu itu terlihat seperti tarian gemulai di mataku. Sangat menarik dan memikat diriku untuk betah berlama-lama menatapmu.

Kau berhasil memasung seluruh indraku untuk terus terpusat kepadamu.

Pusaran budi baikmu, telah membuat karam seluruh hasrat buas yang tersimpan di dalam hatiku. Luluh sudah ego jahatku terhadap dirimu. Kau pun berhasil mengoyak benteng pertahanan, yang selama ini kubangun untuk melindungi diri agar tidak mudah percaya pada sembarnag orang.

Sebab kau, adalah sosok penuh cinta yang menghangatkan.

Aku masih ingat, saat nanah mendiami luka di kaki-kakiku. Kau datang membawakan makanan dan mengajakku bercanda. Keceriaan dan cintamu menular kepadaku. Aku pun hanya bisa menggerakkan sebagian tubuh, untuk memberimu pertanda bahwa aku menyukai caramu dalam menghangatkan hatiku yang beku. Kegembiraan yang kau bagikan kepadaku, membuatku terharu.

“Jangan pernah putus asa, karena Tuhan memberikan cobaan selalu diiringi kunci jawabannya. Mungkin, Tuhan ingin kau diam sejenak untuk mengujimu setelah sekian banyak perjalanan yang kau lalui,” katamu dengan sungguh-sungguh, sambil melihat tepat pada kedua manik mataku yang tengah putus asa karena lukaku tidak kunjung sembuh.

Sayangnya, wajah rupawan penuh senyum ketenangan milikmu, kerap disalah artikan oleh orang yang berotak dangkal. Mereka tidak melihat binar teduh di dalam matamu. Mereka lebih sibuk mengukur seberapa panjang jenggot dan cambang yang kau punya, lalu menyamakannya dengan poster buronan teroris yang terpasang di seluruh sudut kota.

Banyak orang yang tidak bisa merasakan niatan tulusmu untuk membantu, hanya karena dirimu teguh memegang ajaran agamamu. Orang-orang yang terjangkiti pikiran sempit pun, turut memerburuk citra kebaikanmu. Mereka takut kehadiranmu yang bertujuan membawa kebaikan, akan menebar faham dangkal. Seperti, teori bentuk bumi trapesium yang santer terdengar. Padahal, kau jauh lebih pandai dari mereka yang mengolok-olok dirimu.

Jika saja mereka mau melihat lebih jauh, melihat hatimu yang jernih, kupastikan mereka akan seperti aku. Mengagumi seluruh hal yang melekat kepada dirimu. Tidak peduli sperti apa rupa penampilanmu, karena semua itu hanya bungkus yang Tuhan titipkan. Seperti aku, dengan bungkus yang membuat banyak orang mengabaikan keberadaanku.

Andai, semua orang melihat dirimu seperti caraku dalam melihat dirimu. Mungkin, tidak akan ada pertikaian dan dunia ini aman.

“Pak, sebaiknya serahkan perawatan dia kepada kami. Agar lebih terawat dan luka di kakinya segera ditindak lanjuti oleh dokter kami,” ucap seorang pria bersetelan hitam ketika mengajak dirimu berdiskusi, setelah kau mendapati lukaku yang tidak kunjung membaik.

Kau hanya mengangguk dan menenangkan diriku yang gundah. Hatiku terasa sesak saat menyadari kehadiran pria bersetalan hitam itu hendak membawaku pergi darimu. Kau pun terlihat sedih saat membiarkan pria bersetelan hitam membawaku ke dalam mobil yang bertuliskan Balai Penangkaran Anjing Liar.

“Namanya Cintamu. Kuberikan agar orang tahu bahwa dia anjing yang sangat baik. Tolong jaga dia dan jika nanti ada keluarga yang mengadopsinya, pastikan keluarga tersebut adalah pecinta anjing sejati,” katamu pada pria bersetelah hitam, sebelum membiarkan mobil yang membawaku pergi dari hadapanmu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here