Bekas Luka

0
36

Kau tersenyum lalu cemberut dengan manja. Aku terpesona dengan segala ekspresi yang tengah kau sajikan. Namun, aku tahu jika alasan di balik ekspresi itu, adalah alasan yang sama seperti alasan bekas luka yang ada di dadaku.

“Apa? Apa ada yang aneh dengan diriku?” tanyamu dengan bingung dan membuat senyum yang sedari tadi kusimpan, akhirnya mengembang tanpa bisa kucegah lagi.

“Kemarilah! Aku punya cerita dan juga rahasia besar dalam hidupku. Mungkin, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakannya padamu,” ucapku untuk memintamu duduk dekat padaku.

Rahasia ini telah kusimpan sepanjang umur cicit Haji Romli, guru ngaji yang pernah mengajarkan cara baca alif ba tha padaku. Kau adalah satu-satunya yang tahu selain Rojana, perempuan lacur di kampung seberang.

“Rojana? Aku tak mengenalnya,” tanyamu dengan kening berkerut, karena baru kali ini kau mendengar namanya.

Ah tidak penting siapa Rojana, karena dia adalah ibu dari gadis-gadis yang membuka paha demi mengeruk uang dari laki-laki durjana.

Tanganku bergerak menggenggam tanganmu, menangkupkannya tepat ke dadaku. Sesaat sebelum membuka kain penutupnya, kupejamkan mata untuk mencari kekuatan karena ini sama dengan mengorek luka lama yang belum kering sempuna.

“Simaklah kisahku ini, rahasia yang suamiku sendiri pun tidak tahu dan hanya kuceritakan kepadamu,” pintaku dengan tulus dan kau sambut dengan anggukan penuh.

Berlahan, kubuka kain penghalang yang menyembunyikan bekas luka di dadaku ini. Lihatlah! Bukankah ada bekas sayatan panjang di sana? Tampak mengerikan dengan gelembung keloid yang menghitam dan juga garis-garis bekas jahitan yang terlihat menyeramkan seperti tangan-tangan setan.

Luka sepanjang sepuluh centimeter yang pernah membuat diriku koma hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelum aku mengenal suamiku. Ya, luka ini adalah luka yang membuat tubuhku meriang dan kejang-kejang  karena infeksi yang meradang.

Dulu, sebelum luka ini ada, di sana ada inti kehidupan yang membuat aku, atau pun manusia lain untuk tetap bahagia dan waras. Inti kehidupan yang menjadi saripati kehidupan raga, terletak jauh menembus lapisan endotel dan juga lipid di bawah kulit.

Namun, inti kehidupan yang kupunya sejak aku keluar dari rahim ibuku itu, harus kurelakan pergi meninggalkan rusuk dan rongga dada yang selama ini melindunginya.

Kau tahu kenapa?

Sama sepertimu saat ini. Tentang laki-laki yang satu bulan lalu telah membuatmu jatuh cinta dan katamu dia juga pandai merangkai aksara, sehingga harimu selalu penuh bunga asmara.

Ah, kau merona. Ternyata benar tebakkanku. Laki-laki itu yang harus kau waspadai agar inti kehidupanmu tidak tercabut keluar.

Lihatlah jauh ke dalam hatinya yang tertutup majas dari lisan yang membuat pipimu berwarna merah jambu, karena kau akan melihat siapa dia dengan benar, seperti dia apa adanya di bulan sebelum sebulan yang lalu.

Baiklah jika kau keberatan. Aku pun tahu apa yang ada di pikiranmu. Sama seperti aku di masa lalu, saat inti kehidupan di dalam dadaku belum tercongkel keluar.

Dulu, ibuku pernah mengatakan hal yang sama seperti yang kukatakan sekarang, aku hanya mencebik dan menertawakannya. Bagiku, mana tahu wanita tua yang selalu sibuk dengan kinang akan masalah remaja.

Tetapi, lihatlah sekali lagi. Bekas luka yang ada di dada ini, bukan bekas operasi sembarang operasi. Tetapi operasi khusus yang kulakukan dengan penuh kesadaran meskipun setelahnya aku hampir mati.

Sekarang, kau mau percaya kepadaku?

Hem! Kau belum bisa percaya.Terserah kau saja, jika kau hendak percaya maka ingatlah cerita ini. Karena ini bukan kutipan novel ternama ataupun gubahan legenda. Cerita ini kutitipkan agar kau tahu, bahwa aku tidak ingin bekas luka di dadaku ini menjadi bekas luka yang sama di dadamu.

Saat aku seusiamu, ah bukan. Tepatnya, tiga tahun lebih tua dari usiamu sekarang. Aku mengenal laki-laki luar biasa yang menghadiahkan berlembar-lembar puisi cinta untukku. Tidak itu saja, dia membuat namaku terkenal dalam kolom cerita fiksi di koran-koran ternama. Sebab, namaku selalu dipakainya untuk tokoh wanita ciptaannya. Aku bahagia menjadi wanita yang akan abadi bersama karyanya, pun demikian dengan semua hal tentang diriku yang kekal dalam puisi-puisi ciptaannya.

Ketika honor menulisnya turun, dia akan mengajakku makan mie ayam di samping pasar. Menceritakan dunia yang tidak pernah kuketahui sebelumnya, sambil menikmati caranya mencuri-curi pandang padaku. Bahkan, sekumpulan lalat hijau yang kenyang berpesta di bekas kuah pada mangkukku,  tidak mampu mengalihkan tatapan memuja penuh pesona yang menguar dari maniknya yang hitam sempurna.

Seluruh hidupku menjadi penuh dirinya. Di sumur, di dapur, di kasur, di mana pun aku melihat ada dia dengan segala kelebihan yang dimilikinya.

Kehidupannya mejadi pusaran kehidupanku.

Aku melayang karena limpahan cintanya yang memabukkan, dan semua bagian tubuhnya yang terasa pas di setiap jengkal bagian tubuhku.

Hingga, anak tetangga yang rumahnya terpisah dua rumah dari rumahku, tengah pingsan setelah mencuci di kali bersamaku. Kutunggui dan kuberikan minyak angin padanya, sambil menunggu tukang urut yang sedang dijemput.

Arhg! Aku masih ingat rasa sakitnya. Setiap detik yang berjalan seperti satu tahun putarannya. Bahkan, masih kuhafal dengan rinci, gerak mulut tukang urut yang berkata … gadis itu tengah menyimpan inti kehidupan kedua di dalam perutnya.

Kau bisa menebak kenapa bekas luka ini ada? Karena inti kehidupan di dalam perut gadis itu adalah inti kehidupan milikku yang pernah kutitipkan pada laki-laki seperti laki-laki sebulan lalu yang menyeretmu dalam pesona aksara rangkaiannya.

Darah segar membanjiri seluruh bagian tubuhku, mengucur deras dari lubang menganga di dada. Aku sekarat dan anak gadis bernama Rojana itu tertawa pongah, karena satu dari saingannya akan segera mati.

Kau jangan bingung, kenapa aku masih bisa hidup sampai saat ini meskipun aku sudah tidak memiliki inti kehidupan itu lagi. Karena, dari bekas luka yang menjijikkan ini, ada rongga besar di dalamnya. Rongga yang bisa menampung tetesan inti kehidupan lain yang diberikan orang-orang yang menyayangiku, termasuk suamiku yang tidak pernah menanyakan dimana inti kehidupanku tersimpan.

Maka, kukatakan kepadamu. Jagalah inti kehidupan di dalam dadamu itu, agar tidak terbetot keluar seperti punyaku. Pun demikian dengan laki-laki satu bulan lalu yang berhasil menyeretmu dalam buaian penuh pesona aksara memabukkan, jangan kau titipkan inti kehidupanmu padanya. Pergilah untuk menjauhinya, dan jadikan dirimu lebih bermartabat agar tidak menarik laki-laki lain seperti laki-laki sebulan lalu yang menjeratmu dalam pesona aksara palsu.

Apa? Kau masih tak percaya? Baiklah. Aku sudah mengingatkamu. Buang wajah menyeringai lucumu itu, dan jangan mendebik bantal. Karena aku serius dengan semua hal yang kukatakan.

Silahkan kalau kau ingin beranjak karena bosan mendengar ocehan orang tua seperti diriku ini. Silahkan kau pergi kemana pun asal jangan pergi menemui laki-laki satu bulan lalu yang memikatmu dalam rangkaian aksara itu.

Sekali lagi kukatakan, jangan! Percayalah aku tidak ingin kau sekarat karena luka yang sama seperti bekas luka di dadaku ini.

***

“Ibu … maafkan aku, aku tidak mengidahkan nasihatmu ” ucapmu sore itu, sore yang tepat satu minggu setelah aku menitipkan rahasia terbesar dalam hidupku padamu.

Aku pun masygul, melihat dadamu mengucurkan darah hitam dan nanah busuk. Rupanya, sudah dari kemarin kau menyembunyikan luka itu karena malu akan memiliki bekas luka di dada yang sama seperti bekas luka di dada milikku.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here